Langsung ke konten utama

Wanita Berdaya Ramah Keluarga

Kalau dari judulnya agak berat ya buat saya tulis karena ga ada riset atau pendapat ahli dibidang tentang keluarga dan lainnya yang berkaitan.
Dalam tulisan ini, saya bukan mengurai kriteria ideal wanita dalam keluarga dan rumah tangga, karena saya pun belum berpengalaman berkeluarga mandiri, wkwk..
Okaaayy.. mari mulai masuk topik bahasan ya.
Hmm.. wanita berdaya tapi tetap ramah keluarga?
Di zaman sekarang, dimana wanita sudah bebas melakukan kegiatan, bebas bersekolah sampai jenjang yang tinggi dan bekerja secara aktif bahkan pada bidang yang dulu cuma pria yang ada disana. Zaman yang sering di teriaki emansipasi dan kesetaraan gender antara kaum adam dan kaum hawa, yang pada kenyataannya juga suka lucu. Misal wanita minta disetarakan kedudukannya dengan pria, seperti bisa mencapai jabatan yang sama dengan pria, bisa dapat kebebasan yang sama dengan pria deh pokoknya, tapi di kondisi tertentu wanita juga ingin diprioritaskan dan didahulukan, seperti istilah "ladies first" sehingga kayaknya ada ketimpangan dan kecurangan ga sih? Emansipasi memang produknya kaum feminis yang pengen disamakan tapi juga pengen diistimewakan, karena mereka anggap wanita di remehkan. Jika mereka mengerti bagaimana islam sangat menjaga dan memberikan kedudukan yang terhormat bagi wanita, tentu gerakan kayak gitu ga ada ya.
Okay balik ke topik. Berdaya, menurut saya pribadi tanpa pakai kbbi, berdaya adalah wanita yang punya kemampuan, bisa berguna dimasyarakat dan keluarga, bisa bekerja dan berkarya. Lalu gimana caranya wanita yang berdaya alias aktif dalam berkarya/kerja/usaha bisa ramah keluarga? Ramah keluarga disini maksudnya memiliki waktu yang proporsional bagi wanita untuk berkarya tanpa mengesampingkan peran/kodrat utamanya sebagai istri atau ibu (buat yang udah nikah).
Mau memilih sebagai istri/ibu bekerja atau menjadi ibu rumah tangga itu adalah pilihan masing-masing. Tidak bisa nge judge pilihan yang satu salah dan mendewakan pilihan yang lain. Karena masing2 orang punya kondisi yang beda-beda, ga bisa disamaratakan.
Buat saya sendiri, untuk bisa ramah keluarga kelak, saya lebih ingin bisa jadi wanita berdaya dari rumah (berkarya dengan waktu dan tempat yang fleksibel). Karena saya sendiri tipe orang yang pusing atur waktu dengan tugas multi super ganda kalau jadi wanita karir kantoran dan akan kekuras habis tenaga serta pikiran pada salah satu pihak kalau secara rutin pergi pagi pulang malam dan ditambah pekerjaan rumah yang menambah kelak. Mungkin adapula wanita2 tangguh yang dapat menangani tugas menjadi wanita karir kantoran tetapi tetap masih bisa membagi waktu dan tenaga untuk keluarga dirumah, sejujurnya saya sangat salut dengan mereka, ini bukan hal yang mudah dalam pikir saya, dan mereka bisa.
Bagi saya yang ingin berkarya dari rumah, bukan sekedar yang mengurusi pekerjaan rumah saja, tapi juga ada kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan melalui aktivitas2 yang syukur2 bisa menjadi penghasilan. Dalam waktu yang sama saya pun harus menambah ilmu yang ga terbatas dari bidang saya kuliah aja, sebab kelak saat jd ibu, wanita harus menjadi supermama alias serba bisa segala bidang, mulai koki, dokter, ART sampai guru. Nah, karena ibu itu sekolah pertama bagi anaknya, dan guru pertama pada masa golden age terutama itu yang buat saya ingin punya perhatian lebih tentang bagaimana mendidik anak, membentuk visinya, menanamkan nilai2 yang saya rasa dulu terlambat saya dapatkan, oleh karena itu saya ingin mendampingi anak kelak. Karena perkembangan zaman yang terus melesat, maka perlu sistem mendidik yang update. Dan menurut saya bagaimana saya dididik dulu tidak bisa diterapkan begitu aja ke anak zaman sekarang tanpa adanya pengembangan dan penyesuaian. Itu lah mengapa PR saya banyaaaaak ya. Jadi berdaya dirumah pun bukan berarti terpenjara dirumah aja. Bisa kok kerja sama dengan suaminya buat sistem asuh anaknya kelak. Dengan begitu anak pun jadi dekat dengan kedua orang tuanya kan. Seperti cerita-cerita dari mba Dewi N. Aisyah yang bisa saling mengisi mendidik anaknya dengan suaminya
Saya banyak terinspirasi dari beliau juga.
Sebagai penutup, ga masalah mau jadi wanita karir yang aktif sesuai passionnya, baik itu aktif dari kantor atau luar kantor, selama hak-hak keluarga terutama ya terpenuhi dan punya waktu yang proporsional plus berkualitas buat keluarganya, menurut saya ga masalah. Semua kembali ke pilihan dan pertimbangan masing-masing wanita yang semakin kece berdaya. Semangat menjadi wanita berdaya, tangguh dan ilmunya kekinian tanpa melupakan kodrat dasar wanitanya !!

(Self reminder buat diri sendiri, heheh)

__
Tulisan ini merupakan bagian dari gerakan Sabtulis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renunganku

  rasanya.. ya sedih, kenapa hal itu harus dikeluarkan disaat emosiku sebenarnya juga sedang menggembung dan siap meledak. Kenapa pas banget saat aku mau pergi survey? Dalam hatiku ga bisa ditunda ya sampe aku pulang survey? Sebelum dia menyatakan untuk hidup masing-masing dan saling tidak ketergantungan, aku sudah berpikir kita memang sudah seharusnya mulai belajar menjauh. Tapi.. aku tidak menyangka ini terjadi seperti bom. Aku akui aku overreacting, overthinking saat dia mulai menyinggungku dengan kata-katanya. Saat dia bilang ga mau di gitu-gitu lagi karena kata-kataku pada malam sebelumnya bilang aku sedih saat dia lama merespon dan responnya ga nyambung. Seperti aku yang berusaha untuk ada dan menanggapi kata-katanya, dan aku merasa apa yang aku katakan itu bagai angin lalu, yang mostly saat aku mengutarakan sesuatu dia malah membuka topik yang lain tentangnya. Aku merasa tidak dilihat ada.   Iya, memang timing yang tidak tepat kurasa sampai semuanya meledak seperti itu....

Part 1: Positive Thinking

Positif thinking isn't an instant things Berpikir positif itu ga serta merta begitu aja disegala situasi dan kondisi bisa seperti itu. Dan orang yang terlihat selalu berpikiran positif pun ga berarti ga pernah berpikiran negatif. They fight the negativi ty on their min ds. Kenapa perlu berpikir positif? Karena berpikiran negatif tidak akan menyelesaikan masalah, justru menambah beban pikiran karena over thinking yang ga penting. Berpikir positif itu bisa bantu berpikir lebih jernih dan ga menambah masalah baru dari negative thinking yang berujung sensi sama orang lain 😂 Dan masih banyak lagi Bisa ber- positive thinki ng itu butuh ilmu dan latihan. Ga cukup waktu hanya sehari-dua hari buat jd terbiasa, dan ga cukup juga hanya baca buku sekilas tanpa direnungkan, diresapi dan dipraktekkan. Sepengalaman saya, saya membeli beberapa buku yang berhubungan dengan pengelolaan pikiran dan emosional, mencoba mencari celah tentang gimana sih praktek buat bisa jernih berpikir...

Sebelum Habisnya Masa di Dunia

Untuk menulis ini sebenarnya agak ngeri-ngeri sedap, tentang kematian.. hmm kita ganti aja ya katanya jadi saat waktu didunia kita sudah habis. Jika membahas tentang habisnya waktu kita didunia, tentu akan menjurus tentang tujuan hidup kita yang inginnya akan berlanjut walau hidup itu telah habis. Bukan tujuan yang sebatas kita hidup, dimana saat hidup kita habis, habis pula tujuan kita dan apa yang kita usahakan sesuai cita untuk diri kita itu bisa jadi melebur bersama jasad kita atau hanya menguap dan hilang diudara. Seharusnya hal ini sudah saya pikirkan sejak lama, justru saat awal pembentukan cita-cita saya (kita) sudah diarahkan untuk tujuan setelah hidup/ akhirat, bukan hanya cita-cita seperti ingin jadi dokter atau pilot contohnya. Sepertinya sudah cukup ya intermezzo nya, sekarang saya mau membagikan apa aja yang ingin saya lakukan. 1. Jadi orang beriman kepada Allah dan mengimani Muhammad Salallahu A'laihi Wassalam. Mengapa? Krn saya pernah membaca di Al Qur'an (...