Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label fiksi

Bagaimana Perasaanmu? #3

Jika sedih adalah satu kata sebelum koma, maka masih ada cerita lain untuk mengakhiri bertemu titik. Dan cerita pun tak berhenti dari sekedar kalimat berjumpa titik hingga lembarnya terkumpul menjadi satu cerita utuh. "Kita telah menyepakati, bahwa kita berhenti pada tanda koma ini. Aku tak tahu apakah akan berakhir dengan orang yang berbeda atau denganmu hingga menemui titik." "Lalu?" Tanyanya lirih. "Lalu apa?" "Ya bagaimana bisa kau tidak menangis?" Tanyanya semakin penasaran. "Aku hanya tak menangis hari ini, di depanmu. Sudah aku habiskan semua sesak dan tangisku saat tak ada satu orang pun yang tahu, hingga tak tersisa." Dia mengernyitkan dahinya, lalu tertunduk. "Hidupku harus tetap berjalan. Aku tak boleh berhenti dengan kisah-kisah yang telah berlalu hingga tak berani membuka lembar yang baru bukan? Begitu pun denganmu. Walau nyatanya tak semudah itu saat dilembar selanjutnya aku menemukan tokoh baru yang datang pad...

Bagaimana Perasaanmu? #2

Aku tak tahu bagaimana memaknai perasaan, sedang rasanya saja tak dapat dikecap oleh indera perasa. Fisiknya pun tak mampu terjamah, walau hanya sentuhan lembut antaranya dan tanganku yang menengadah. Rupanya pun dapat terlihat oleh mata, selain ilusi yang terus berubah, kadang bunga dimusim semi dan kadang pula badai yang siap membuat runtuh apapun yang dilewati. Sungguh ia hanya terdiri dari 4 huruf penyusun pada kata utamanya, namun dapat mengubah dunia hingga tak mampu berkata-kata. Lalu apakah dia? To be continued...

Bagaimana Perasaanmu? #1

Matanya menatap 30° kebawah, tepat ke arahku dengan tatapan seperti angin dingin yang membawa awan kelabu. "Bagaimana perasaanmu?" Aku membalas tatapnya yang serasa menusuk masuk kedalam mataku. "Bagaimana menurutmu?" Balik aku bertanya dengan sunggingan senyum bulan sabit tak lebih dari 1 cm ke kiri dan ke kanan. Dia melemparkan pandangannya jauh. Menarik nafas dalam dan membuang nafas serta pandangannya ke tanah. "Tidak kah kamu sedih?" "Jika itu pertanyaanmu tentu kamu tahu jawabnya, namun jika kamu bertanya, kenapa aku tak menangis, mungkin aku punya jawaban berbeda." Mata kami kembali bertemu. Alisnya menaik dan dahinya mengerut seperti bertanya tanpa kata. Lalu aku menambahkan, "Aku tak memintamu bertanya apa jawabannya atau pun melarangmu untuk tahu apa alasannya," Awan yang sebelumnya kelabu terbawa angin ke matanya, kini siap menurunkan hujannya pada langit gelap yang telah mendung sedari pagi. Tangannya meremas tanga...

Aku Mencintaimu Dengan (Tak) Sederhana

Mencintaimu tak sesederhana api yang membakar kayu menjadi debu, Mencintaimu tak sesederhana angin yang menerbangkan debu sambil berlalu, Aku mencintaimu tak sesederhana seperti hati yang mudah melekat hanya karena lagu, Oleh karena itu tak sederhana pula aku melupakanmu, sebab jejakmu terlanjur membekas dihatiku Sebuah puisi pada lembar kertas yang kian menguning, yang tengah mengusang termakan usia. Kertas yang telah terabaikan 2 tahun terakhir diantara halaman buku tua yang lama tak ku jamah. Kata-kata terakhir yang ku terima sebagai pernyataan akhir dari dua orang yang saling meniadakan pada akhirnya. Bukan maksudku sengaja mengabaikannya. Tapi tak semudah itu membaca isi dan maknanya, yang bisa jadi membuatku tak ingin pergi dan menetap kembali pada hati yang sama. Selang waktu berlalu, nyatanya hatiku masih bergetar membacanya. Guratan tulisan tangannya membuatku hatiku teriris dan kian menggetar. Karena bagiku, menghapus kenangan tentangnya tak sesederhana ombak membasuh g...