Langsung ke konten utama

Bagaimana Perasaanmu? #3

Jika sedih adalah satu kata sebelum koma, maka masih ada cerita lain untuk mengakhiri bertemu titik. Dan cerita pun tak berhenti dari sekedar kalimat berjumpa titik hingga lembarnya terkumpul menjadi satu cerita utuh.

"Kita telah menyepakati, bahwa kita berhenti pada tanda koma ini. Aku tak tahu apakah akan berakhir dengan orang yang berbeda atau denganmu hingga menemui titik."

"Lalu?" Tanyanya lirih.

"Lalu apa?"

"Ya bagaimana bisa kau tidak menangis?" Tanyanya semakin penasaran.

"Aku hanya tak menangis hari ini, di depanmu. Sudah aku habiskan semua sesak dan tangisku saat tak ada satu orang pun yang tahu, hingga tak tersisa."

Dia mengernyitkan dahinya, lalu tertunduk.

"Hidupku harus tetap berjalan. Aku tak boleh berhenti dengan kisah-kisah yang telah berlalu hingga tak berani membuka lembar yang baru bukan? Begitu pun denganmu. Walau nyatanya tak semudah itu saat dilembar selanjutnya aku menemukan tokoh baru yang datang pada hidupmu. Dan aku pun tak dapat memungkiri jika ada tokoh baru yang menempati posisi yang sebelumnya diisi olehmu."

"Maafkan aku, telah membuatmu pada posisi itu. Aku tahu ini tak mudah untukmu, dan bahkan untukku pula." Ia pun menunduk semakin dalam.

"Lalu apakah kamu membenciku?" Tanyanya

To be continued..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja

Pada suatu senja, di balkon lantai 2 rumah berwarna abu-abu, bercakaplah sepasang suami istri. "Untuk apa kita disini?" Tanya sang istri yang duduk bersebelahan suaminya dengan tatapan heran. "Memandang senja," jawab sang suami tenang. Sang istri mendengus, "Sudah kubilang, aku tidak suka senja. Aku lebih suka pagi. Bagiku senja membuatku hampa, seperti berada di kota mati sendirian ditengah para zombie. Sungguh tidak ada yang bisa kunikmati dari senja selain kegusaran," "Justru itu. Apakah ada pagi jika senja tak pernah ada? Bagaimana bisa kamu mensyukuri dan menikmati pagi yang kau sukai, jika senja yang kau benci tak pernah hadir untuk saling mengisi waktu yang saling berganti? "Istriku sayang, bersyukur itu satu paket, baik untuk yang kamu senangi menerimanya ataupun yang bahkan kau segan untuk menengoknya, "Seperti aku yang tidak sepenuhnya sempurna, yang pasti punya kekurangan sebagai manusia, namun kau mau menerimanya, hingga k...

Renunganku

  rasanya.. ya sedih, kenapa hal itu harus dikeluarkan disaat emosiku sebenarnya juga sedang menggembung dan siap meledak. Kenapa pas banget saat aku mau pergi survey? Dalam hatiku ga bisa ditunda ya sampe aku pulang survey? Sebelum dia menyatakan untuk hidup masing-masing dan saling tidak ketergantungan, aku sudah berpikir kita memang sudah seharusnya mulai belajar menjauh. Tapi.. aku tidak menyangka ini terjadi seperti bom. Aku akui aku overreacting, overthinking saat dia mulai menyinggungku dengan kata-katanya. Saat dia bilang ga mau di gitu-gitu lagi karena kata-kataku pada malam sebelumnya bilang aku sedih saat dia lama merespon dan responnya ga nyambung. Seperti aku yang berusaha untuk ada dan menanggapi kata-katanya, dan aku merasa apa yang aku katakan itu bagai angin lalu, yang mostly saat aku mengutarakan sesuatu dia malah membuka topik yang lain tentangnya. Aku merasa tidak dilihat ada.   Iya, memang timing yang tidak tepat kurasa sampai semuanya meledak seperti itu....

Part 1: Positive Thinking

Positif thinking isn't an instant things Berpikir positif itu ga serta merta begitu aja disegala situasi dan kondisi bisa seperti itu. Dan orang yang terlihat selalu berpikiran positif pun ga berarti ga pernah berpikiran negatif. They fight the negativi ty on their min ds. Kenapa perlu berpikir positif? Karena berpikiran negatif tidak akan menyelesaikan masalah, justru menambah beban pikiran karena over thinking yang ga penting. Berpikir positif itu bisa bantu berpikir lebih jernih dan ga menambah masalah baru dari negative thinking yang berujung sensi sama orang lain 😂 Dan masih banyak lagi Bisa ber- positive thinki ng itu butuh ilmu dan latihan. Ga cukup waktu hanya sehari-dua hari buat jd terbiasa, dan ga cukup juga hanya baca buku sekilas tanpa direnungkan, diresapi dan dipraktekkan. Sepengalaman saya, saya membeli beberapa buku yang berhubungan dengan pengelolaan pikiran dan emosional, mencoba mencari celah tentang gimana sih praktek buat bisa jernih berpikir...