Langsung ke konten utama

Titik Nol

Pernah merasa berada di titik terendah dalam kehidupan atau biasa disebut titik nol? Atau bahkan terasa lebih rendah hingga sampai titik minus? Aku pernah. Dan kondisi seperti ini kalau ga segera kita ambil tindakan dan dibuat berlarut-larut dan bertumpuk selama jangka waktu yang lama bisa-bisa kesehatan psikis kita menjadi ga sehat. Kondisi ini bisa mempengaruhi kondisi fisik juga lho. Dalam tulisan ini aku mau share tentang pengalamnku, disini aku ga akan ceritain detail latar belakang hingga berada dititik itu, tapi aku mau berbagi yang menurutku lebih penting, yaitu gimana cara keluar dari kondisi itu.
Pertama aku mau kasih gambaran dari sudut pandangku tentang bagaimana rasanya berada di keadaan terendah itu. Waktu itu terasa semua serba salah, mulai dari lingkungan hingga semua orang serasa salah dimataku. Aku merasa hanya hidup sendiri dan tak ada orang lain yang peduli. Tak ada satupun orang yang aku percaya saat itu, semua aku pandang sama, yaitu sebagai orang yang selalu membuatku luka dan ga ada gunanya dekat-dekat mereka. Mungkin seperti memenjara diri sendiri dari lingkungan sosial kali ya. Dalam tekanan yang bagiku saat itu terasa berat, aku tak menceritakannya ke siapa-siapa, karena bagiku tak ada orang yang aku percaya. Aku hanya memendam semua permasalahan itu sendiri tanpa berbagi, bahkan saat itu pun aku jauh dari Allah. Kondisi ini setiap hari aku ratapi, mempertanyakan kenapa orang begitu jahat ke aku, nangis hampir setiap hari, terutama saat tidak ada orang. Karena terlalu menahan emosinya, hampir semua orang menjadi sasaran kemarahan yang tak berdasar dariku. Perlahan orang-orang menjauh dariku. Dan aku semakin terasa ditinggalkan. Walau aku tak sampai berfikiran ekstrim bunuh diri atau melukai diri sendiri, tapi sempat untuk pelampiasan aku agak menyakiti diri sendiri (fisik). Aku benar-benar merasa buruk saat itu. Aku merasa seperti monster yang begitu mengerikan dan konyol. Dan aku berharap walau aku ngerasa malu juga nyeritain ini, tapi seenggaknya, teman-teman yang lain bisa berbenah diri lebih awal agar tidak jadi monster seperti aku di masa lalu.

Lalu bagaimana caranya aku bisa keluar dari keadaan itu? Mungkin masing-masing orang mempunyai cara yang berbeda dan unik sebagai solusi, namun beberapa cara yang aku lakukan dan berhasil adalah sebagai berikut:

1. Membelah diri. Ini bukan semacam jadi amoeba atau jurusnga naruto ya. Aku membagi pemikiranku jadi dua agar aku tetap waras. Yang pertama menjadi si pengeluh yang bebas mengeluhkan perasaannya, yang menerima keadaanku saat itu ya memang seperti itu, tidak ada berpura-pura sok baik-baik saja. Dan diriku yang kedua adalah si pendengar yang sabar mendengarkan, berfikir netral dan setia menasehati. Ini cara pertama yang efektif untukku. Seenggaknya ada sisi yang menerima keadaan sebenarnya dan ada sisi yang kontrol pemikiran agar masih on track.

2. Mendekat ke Allah dan curhatin semuanya. Karena saat itu aku ga percaya sama seorangpun dan takut mau cerita ke orang tapi orangnya ga amanah, dan kalau cerita ke keluarga malah tambah masalah karena ekstra protektif. Nanti aku malah ga boleh temenan sama orang atau kalau ada temanku yang datang justru disuruh pergi lagi. Allah itu Maha Pendengar, paling sabar dengerin tanpa bosen dan pastinya menenangkan. Nah poin yang buat tenang itu yang bisa buat kita berfikir untuk nyari solusi.

3. Mencari kesibukan. Pernah ada orang yang cap aku sebagai kutu buku atau book worm dan semacamnya. Sejujurnya aku itu ga rajin baca buku. Waktu SD aja baca buku tipis cerita rakyat ga kelar-kelar sampai buku dibalikin juga ga selesai bacanya. Nah waktu kondisi ku di titik rendah itu, berawal dari kepo ke blog orang, aku nemu review tentang satu buku, judulnya "Dalam Dekapan Ukhuwah" karya ust. Salim A. Fillah. Nah dari review itu aku jadi tertarik banget sampai akhirnya beli buku itu. Itu adalah buku non fiksi islami pertama yang membuat aku jatuh cinta dengan buku terutama tulisan ust. Salim A. Fillah yang begitu lembut dan membuat aku sadar bahwa perlakuan orang-orang ke aku tuh ga seberapa, Rasulullah jauh diperlakukan lebih buruk, tapi sikap balasannya begitu lembut sejuk dan bijaksana. Dari buku ini pula aku jadi lebih mengenal Rasulullah dan para sahabat nabi yang selama ini hanya sangat samar aku tahu nya.

4. Memaafkan diri sendiri dan orang lain. Nah ini fase yang sama sekali ga instan buatku. Menerima kondisiku, berhenti menyalahkan diri sendiri dan memaafkan supaya dapat tenang itu butuh waktu pengkondisian hati yang ga mudah dan cepat. Aku mulai membaca buku dan tulisan mengenai tema berfikir positif dll. Berbulan hingga bertahun pula yang aku butuhkan untuk memaafkan orang-orang yang dulu aku rasa jadi penyebab kondisiku. Sering kali aku menghindar untuk ga nyulut emosi. Self control pokoknya yang pertama saat itu. Sampai waktu baru setengah sembuh dan memaafkan, aku sering kali mengungkit kesalahan mereka saat mereka melakukan kesalahan sepele. Hanya dalam batinku sih. Tapi beneran nyimpen kesel/benci ke orang itu justru buat menderita sendiri. Sampai akhirnya aku pikir, aku harus stop semuanya, bukan demi mereka, tapi demi diriku sendiri. Aku harus menyayangi diri sendiri yang pertama dan utama dulu. Alhamdulillah ini berhasil.

Mungkin pengalamanku serasa lebay, aku aja yang bermain terlalu lama, aku aja yang sengaja nyimpen luka dan menikmati sakit biar bisa nyalahin orang terus. It's totally not! Jika dilingkungan kalian ada orang yang terlihat stress dan depresi dengan kehidupannya atau lingkungannya, biarkan dia bercerita kepadamu, jadilah pendengar yang tidak menghakiminya, cukup jadi teman sebagai tempat ia melampiasi sesaknya agar tidak meledak dikemudian hari. Jangan asingkan atau salahkan mereka dengan keadaannya karena mereka pun ga mau hidup dalam sesak dan sakit. Temani dan bimbing mereka pada jalan yang baik lagi benar. Buat mereka tidak merasa hanya sendiri tanpa kawan. Dan yang pasti bawa mereka mendekat ke Allah agar solusi segera didapat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renunganku

  rasanya.. ya sedih, kenapa hal itu harus dikeluarkan disaat emosiku sebenarnya juga sedang menggembung dan siap meledak. Kenapa pas banget saat aku mau pergi survey? Dalam hatiku ga bisa ditunda ya sampe aku pulang survey? Sebelum dia menyatakan untuk hidup masing-masing dan saling tidak ketergantungan, aku sudah berpikir kita memang sudah seharusnya mulai belajar menjauh. Tapi.. aku tidak menyangka ini terjadi seperti bom. Aku akui aku overreacting, overthinking saat dia mulai menyinggungku dengan kata-katanya. Saat dia bilang ga mau di gitu-gitu lagi karena kata-kataku pada malam sebelumnya bilang aku sedih saat dia lama merespon dan responnya ga nyambung. Seperti aku yang berusaha untuk ada dan menanggapi kata-katanya, dan aku merasa apa yang aku katakan itu bagai angin lalu, yang mostly saat aku mengutarakan sesuatu dia malah membuka topik yang lain tentangnya. Aku merasa tidak dilihat ada.   Iya, memang timing yang tidak tepat kurasa sampai semuanya meledak seperti itu....

Part 1: Positive Thinking

Positif thinking isn't an instant things Berpikir positif itu ga serta merta begitu aja disegala situasi dan kondisi bisa seperti itu. Dan orang yang terlihat selalu berpikiran positif pun ga berarti ga pernah berpikiran negatif. They fight the negativi ty on their min ds. Kenapa perlu berpikir positif? Karena berpikiran negatif tidak akan menyelesaikan masalah, justru menambah beban pikiran karena over thinking yang ga penting. Berpikir positif itu bisa bantu berpikir lebih jernih dan ga menambah masalah baru dari negative thinking yang berujung sensi sama orang lain 😂 Dan masih banyak lagi Bisa ber- positive thinki ng itu butuh ilmu dan latihan. Ga cukup waktu hanya sehari-dua hari buat jd terbiasa, dan ga cukup juga hanya baca buku sekilas tanpa direnungkan, diresapi dan dipraktekkan. Sepengalaman saya, saya membeli beberapa buku yang berhubungan dengan pengelolaan pikiran dan emosional, mencoba mencari celah tentang gimana sih praktek buat bisa jernih berpikir...

Unspoken words

Pernah ga merasa pengen cerita banyak, tapi pada akhirnya ga ada kata yang terucap selain diam? Momen ketika merasa ga ada orang yang pas buat jadi luapan curhat, sehingga aku berpikir hanya ke Allah lah aku curhat. Namun disaat aku seharusnya mulai curhat ke Allah, nyatanya lidahku pun tak tahu harus mulai dari mana. Saat itu aku hanya menatap langit yang terlihat dari sela genteng kaca tepat di atas aku duduk, disaat itu aku hanya berkata dalam hati: "Ya Allah, Engkau pasti tahu bukan?" Ya, tentunya Allah Maha Tahu, bahkan Allah tahu apapun yang aku tak mampu uraikan dalam lisan. Aku hanya menatap langit, menangis, menangis dan menangis. "Ya Allah aku takut, Ya Allah aku sedih, Ya Allah sungguh engkau lebih besar dari masalahku, Ya Allah ampuni aku, Ya Allah tolong aku, Ya Allah peluk aku, Ya Allah jangan tinggalkan aku, Aku yakin Engkau memberikan yang terbaik lebih dari yang aku inginkan." Hanya seputar itu saja yang aku ungkapkan. Aku hanya ingin bersimpuh...