Menulis untukku bukan karena hidupku pumya cerita yang sempurna. Tapi menulis untukku adalah berbagi rasa yang pernah aku punya, untuk berbagi kekuatan dan semangat bagi mereka yang sedang atau pernah punya permasalahan yang sama. Bahwa aku dan kamu ga sendiri, masih ada orang yang mengerti tentang rasa yang bahkan sering sulit untuk diceritakan. Aku pernah punya pengalaman itu, saat membaca tulisan seseorang yang membuat aku, "kok pas banget ya ? Kok bisa sama?" Dan disaat itu aku merasakan bebanku kian mengikis karena ada orang diluar sana yang merasakan hal serupa. Aku tidak bersyukur orang tersebut ditimpa masalah, tapi aku bersyukur masih ada orang yang memberikan arti bersyukur ditengah ketidak sempurnaan, masih ada yang mengingatkan bahwa hidup manusia memang jauh dari sempurna, tapi kita masih punya Allah yang sempurna, Allah yang akan menyempurnakan retakan hati kita menjadi lekat, Allah yang mengubah air mata kecewa terhadap makhluk menjadi air mata taubat dan syukur yang meringankan beban rasa yang ada. Bahwa Allah tidak menuntut kita sempurna, namun Dia hanya menyuruh kita untuk menyempurnakan ibadah kita hanya untuk kita.
Begitu lah yang ku inginkan dengan menulis. Seperti aku termotivasi dan kembali optimis mengenal Sang Maha Tempat Bergantung yang Maha Esa lewat membaca tulisan.
Banyaknya kesamaan dan tawa yang aku dan kamu miliki dan berbagai rasa yang sempat saling berbagi, membuat aku mengira kamu adalah potongan hati pelengkap milikku. Namun aku lupa satu hal, untuk dapat melengkapi satu sama lain, yang aku butuhkan bukanlah bentuk potongan yang sama, melainkan potongan yang saling menggenapi kekosongan yang aku punya dan begitupun aku yang dapat mengisi kekosongan yang kamu punya. Kita telah mencoba dalam skala waktu yang semakin lama semakin membuat aku dan kamu saling terluka, dalam pemaksaan untuk menyatukan potongan itu. Hingga akhirnya kita menyadari usaha kita lama kelamaan hanya akan merusak potongan hati yang kita punya, entah itu patah, sobek, retak ataupun memar. Semakin kita mencoba, semakin kita melukai satu sama lain hingga rasanya benturan kecil akan membuat retak menjalar dengan rapuhnya untuk saling menggugurkan. Malam itu, saat tangis antara aku dan kamu saling tertahan. Saat aku dan kamu butuh untuk saling menguatkan dan berkata, ...
Komentar
Posting Komentar