Menulis untukku bukan karena hidupku pumya cerita yang sempurna. Tapi menulis untukku adalah berbagi rasa yang pernah aku punya, untuk berbagi kekuatan dan semangat bagi mereka yang sedang atau pernah punya permasalahan yang sama. Bahwa aku dan kamu ga sendiri, masih ada orang yang mengerti tentang rasa yang bahkan sering sulit untuk diceritakan. Aku pernah punya pengalaman itu, saat membaca tulisan seseorang yang membuat aku, "kok pas banget ya ? Kok bisa sama?" Dan disaat itu aku merasakan bebanku kian mengikis karena ada orang diluar sana yang merasakan hal serupa. Aku tidak bersyukur orang tersebut ditimpa masalah, tapi aku bersyukur masih ada orang yang memberikan arti bersyukur ditengah ketidak sempurnaan, masih ada yang mengingatkan bahwa hidup manusia memang jauh dari sempurna, tapi kita masih punya Allah yang sempurna, Allah yang akan menyempurnakan retakan hati kita menjadi lekat, Allah yang mengubah air mata kecewa terhadap makhluk menjadi air mata taubat dan syukur yang meringankan beban rasa yang ada. Bahwa Allah tidak menuntut kita sempurna, namun Dia hanya menyuruh kita untuk menyempurnakan ibadah kita hanya untuk kita.
Begitu lah yang ku inginkan dengan menulis. Seperti aku termotivasi dan kembali optimis mengenal Sang Maha Tempat Bergantung yang Maha Esa lewat membaca tulisan.
rasanya.. ya sedih, kenapa hal itu harus dikeluarkan disaat emosiku sebenarnya juga sedang menggembung dan siap meledak. Kenapa pas banget saat aku mau pergi survey? Dalam hatiku ga bisa ditunda ya sampe aku pulang survey? Sebelum dia menyatakan untuk hidup masing-masing dan saling tidak ketergantungan, aku sudah berpikir kita memang sudah seharusnya mulai belajar menjauh. Tapi.. aku tidak menyangka ini terjadi seperti bom. Aku akui aku overreacting, overthinking saat dia mulai menyinggungku dengan kata-katanya. Saat dia bilang ga mau di gitu-gitu lagi karena kata-kataku pada malam sebelumnya bilang aku sedih saat dia lama merespon dan responnya ga nyambung. Seperti aku yang berusaha untuk ada dan menanggapi kata-katanya, dan aku merasa apa yang aku katakan itu bagai angin lalu, yang mostly saat aku mengutarakan sesuatu dia malah membuka topik yang lain tentangnya. Aku merasa tidak dilihat ada. Iya, memang timing yang tidak tepat kurasa sampai semuanya meledak seperti itu....
Komentar
Posting Komentar