Menulis untukku bukan karena hidupku pumya cerita yang sempurna. Tapi menulis untukku adalah berbagi rasa yang pernah aku punya, untuk berbagi kekuatan dan semangat bagi mereka yang sedang atau pernah punya permasalahan yang sama. Bahwa aku dan kamu ga sendiri, masih ada orang yang mengerti tentang rasa yang bahkan sering sulit untuk diceritakan. Aku pernah punya pengalaman itu, saat membaca tulisan seseorang yang membuat aku, "kok pas banget ya ? Kok bisa sama?" Dan disaat itu aku merasakan bebanku kian mengikis karena ada orang diluar sana yang merasakan hal serupa. Aku tidak bersyukur orang tersebut ditimpa masalah, tapi aku bersyukur masih ada orang yang memberikan arti bersyukur ditengah ketidak sempurnaan, masih ada yang mengingatkan bahwa hidup manusia memang jauh dari sempurna, tapi kita masih punya Allah yang sempurna, Allah yang akan menyempurnakan retakan hati kita menjadi lekat, Allah yang mengubah air mata kecewa terhadap makhluk menjadi air mata taubat dan syukur yang meringankan beban rasa yang ada. Bahwa Allah tidak menuntut kita sempurna, namun Dia hanya menyuruh kita untuk menyempurnakan ibadah kita hanya untuk kita.
Begitu lah yang ku inginkan dengan menulis. Seperti aku termotivasi dan kembali optimis mengenal Sang Maha Tempat Bergantung yang Maha Esa lewat membaca tulisan.
Pada suatu senja, di balkon lantai 2 rumah berwarna abu-abu, bercakaplah sepasang suami istri. "Untuk apa kita disini?" Tanya sang istri yang duduk bersebelahan suaminya dengan tatapan heran. "Memandang senja," jawab sang suami tenang. Sang istri mendengus, "Sudah kubilang, aku tidak suka senja. Aku lebih suka pagi. Bagiku senja membuatku hampa, seperti berada di kota mati sendirian ditengah para zombie. Sungguh tidak ada yang bisa kunikmati dari senja selain kegusaran," "Justru itu. Apakah ada pagi jika senja tak pernah ada? Bagaimana bisa kamu mensyukuri dan menikmati pagi yang kau sukai, jika senja yang kau benci tak pernah hadir untuk saling mengisi waktu yang saling berganti? "Istriku sayang, bersyukur itu satu paket, baik untuk yang kamu senangi menerimanya ataupun yang bahkan kau segan untuk menengoknya, "Seperti aku yang tidak sepenuhnya sempurna, yang pasti punya kekurangan sebagai manusia, namun kau mau menerimanya, hingga k...
Komentar
Posting Komentar