Langsung ke konten utama

Menulis

Menulis untukku bukan karena hidupku pumya cerita yang sempurna. Tapi menulis untukku adalah berbagi rasa yang pernah aku punya, untuk berbagi kekuatan dan semangat bagi mereka yang sedang atau pernah punya permasalahan yang sama. Bahwa aku dan kamu ga sendiri, masih ada orang yang mengerti tentang rasa yang bahkan sering sulit untuk diceritakan. Aku pernah punya pengalaman itu, saat membaca tulisan seseorang yang membuat aku, "kok pas banget ya ? Kok bisa sama?" Dan disaat itu aku merasakan bebanku kian mengikis karena ada orang diluar sana yang merasakan hal serupa. Aku tidak bersyukur orang tersebut ditimpa masalah, tapi aku bersyukur masih ada orang yang memberikan arti bersyukur ditengah ketidak sempurnaan, masih ada yang mengingatkan bahwa hidup manusia memang jauh dari sempurna, tapi kita masih punya Allah yang sempurna, Allah yang akan menyempurnakan retakan hati kita menjadi lekat, Allah yang mengubah air mata kecewa terhadap makhluk menjadi air mata taubat dan syukur yang meringankan beban rasa yang ada. Bahwa Allah tidak menuntut kita sempurna, namun Dia hanya menyuruh kita untuk menyempurnakan ibadah kita hanya untuk kita.
Begitu lah yang ku inginkan dengan menulis. Seperti aku termotivasi dan kembali optimis mengenal Sang Maha Tempat Bergantung yang Maha Esa lewat membaca tulisan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part 1: Positive Thinking

Positif thinking isn't an instant things Berpikir positif itu ga serta merta begitu aja disegala situasi dan kondisi bisa seperti itu. Dan orang yang terlihat selalu berpikiran positif pun ga berarti ga pernah berpikiran negatif. They fight the negativi ty on their min ds. Kenapa perlu berpikir positif? Karena berpikiran negatif tidak akan menyelesaikan masalah, justru menambah beban pikiran karena over thinking yang ga penting. Berpikir positif itu bisa bantu berpikir lebih jernih dan ga menambah masalah baru dari negative thinking yang berujung sensi sama orang lain 😂 Dan masih banyak lagi Bisa ber- positive thinki ng itu butuh ilmu dan latihan. Ga cukup waktu hanya sehari-dua hari buat jd terbiasa, dan ga cukup juga hanya baca buku sekilas tanpa direnungkan, diresapi dan dipraktekkan. Sepengalaman saya, saya membeli beberapa buku yang berhubungan dengan pengelolaan pikiran dan emosional, mencoba mencari celah tentang gimana sih praktek buat bisa jernih berpikir...

Wanita Berdaya Ramah Keluarga

Kalau dari judulnya agak berat ya buat saya tulis karena ga ada riset atau pendapat ahli dibidang tentang keluarga dan lainnya yang berkaitan. Dalam tulisan ini, saya bukan mengurai kriteria ideal wanita dalam keluarga dan rumah tangga, karena saya pun belum berpengalaman berkeluarga mandiri, wkwk.. Okaaayy.. mari mulai masuk topik bahasan ya. Hmm.. wanita berdaya tapi tetap ramah keluarga? Di zaman sekarang, dimana wanita sudah bebas melakukan kegiatan, bebas bersekolah sampai jenjang yang tinggi dan bekerja secara aktif bahkan pada bidang yang dulu cuma pria yang ada disana. Zaman yang sering di teriaki emansipasi dan kesetaraan gender antara kaum adam dan kaum hawa, yang pada kenyataannya juga suka lucu. Misal wanita minta disetarakan kedudukannya dengan pria, seperti bisa mencapai jabatan yang sama dengan pria, bisa dapat kebebasan yang sama dengan pria deh pokoknya, tapi di kondisi tertentu wanita juga ingin diprioritaskan dan didahulukan, seperti istilah "ladies first...

Aku Bersyukur bahwa Aku Muslimah

Saat aku minder dan merasa rendah diri, aku perlu ingat kalau aku sudah sangat beruntung. Allah tempatkan aku dilingkungan islam dan menjadikan aku sebagai muslimah, dimana tidak semua wanita di bumi ini mendapatkan kehormatan seperti aku.  Saat aku merasa tidak sehebat teman yang lain, dimana mereka memiliki karir melesat di perusahaan yang di sebut-sebut hebat, aku patut bersyukur Allah telah menempatkan aku di tempat terbaik untukku saat ini dengan banyak keberkahan dan keleluasaan untuk beribadah. Bukankah Allah tidak menuntut dan mewajibkan aku untuk menjadi manager atau posisi lebih tinggi dari itu? jika kelak aku menempati jabatan atau posisi tinggi, maka itu bonus bagiku dan bentuk Allah memberiku tanggung jawab lebih untuk bisa bermanfaat bagi rekan lainnya. Saat aku sedih dengan segala macam permasalahan yang ada, aku bersyukur karena Allah pernah berkata: La Tahzan Innallaha Ma'ana. Allah sudah dari jauh-jauh waktu memberikan jawaban atas kesedihanku dengan berk...