Terbiasa sendiri..
Kalau diingat-ingat saya terbiasa sekali sendiri
Dulu saya main monopoli sendiri
Berperan menjadi beberapa pemain dengan diri saya sendiri. Karena kakak saya lebih mau main monopoli bareng tetangga dibanding saya.
Main congklak sendiri.
Main catur sendiri,walau wktu itu blm ngerti aturannya.
Berangkat sekolah SD kadang sendiri, karena kadang saat temen saya datang untuk ajak bareng, disuruh duluan aja sama ortu saya.
Berangkat sekolah SMP sendiri jalan kaki atau naik becak, liat yg lain si antar motor kadang pengen gitu.
Pulang kuliah sendiri saat temen2nya yang lain udah punya pacar dan d antar jemput masing2.
Aaahhh sedih
rasanya.. ya sedih, kenapa hal itu harus dikeluarkan disaat emosiku sebenarnya juga sedang menggembung dan siap meledak. Kenapa pas banget saat aku mau pergi survey? Dalam hatiku ga bisa ditunda ya sampe aku pulang survey? Sebelum dia menyatakan untuk hidup masing-masing dan saling tidak ketergantungan, aku sudah berpikir kita memang sudah seharusnya mulai belajar menjauh. Tapi.. aku tidak menyangka ini terjadi seperti bom. Aku akui aku overreacting, overthinking saat dia mulai menyinggungku dengan kata-katanya. Saat dia bilang ga mau di gitu-gitu lagi karena kata-kataku pada malam sebelumnya bilang aku sedih saat dia lama merespon dan responnya ga nyambung. Seperti aku yang berusaha untuk ada dan menanggapi kata-katanya, dan aku merasa apa yang aku katakan itu bagai angin lalu, yang mostly saat aku mengutarakan sesuatu dia malah membuka topik yang lain tentangnya. Aku merasa tidak dilihat ada. Iya, memang timing yang tidak tepat kurasa sampai semuanya meledak seperti itu....
Komentar
Posting Komentar